Senin, 25 Februari 2013

Karena Aku Sayang Mama (Cerpen)


 Namaku Tashya, umurku 15 tahun. Aku tinggal berdua bersama Mama. Papa dan Mama sudah bercerai 10 tahun yang lalu, aku ikut mama dan Maya adikku ikut Papa.

*Ketika pulang sekolah*

Toktoktok "Ma, aku pulang" aku teriak sambil mengetok pintu rumah. "Masuk aja nak, pintu gak mama kunci" saut mama dari arah dapur. Aku pun langsung bergegas ke ruang makan dan mencoba mencolong tempe goreng hangat yang baru mama masak. "eeitt..ganti baju dulu, baru kita makan bareng." Jawab mama dengan senyum tipis sambil memegang tanganku yang enggan mengambil tempe goreng di meja makan. Tradisi itu sudah berlangsung selama 11 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kebiasaan aku dan mama tak pernah berubah.

*Saat sedang makan bersama*
"Uhuk uhuk" suara batuk yang terdengar tak lagi asing pun mengarah dari arah mama, kulihat tangan mama yang sedang menutupi mulut dan hidung itu pun mengeluarkan darah. Mama pun segera menuju kamar mandi dengan tubuh lesu nya. Bodohnya aku, yang hanya tertunduk diam, dan melanjutkan makan ku tanpa sedikit pun menghiraukannya. Sebenarnya aku ingin sekali menolong dan bertanya kepada mama seperti yang dilakukan seorang anak di film-film. Tetapi kata-kata itu seakan tertahan oleh gengsi ku. Aku pun masih belum berani berbicara bijak didepan mama.

Esoknya, ketika matahari hangat mulai terbit, yaa seperti biasa, aku dan mama melaksanakan shalat shubuh 2 rakaat di ruang tamu. Dan mama yang selalu berada didepanku. Anehnya, ketika sujud, mama tidak lagi terbangun dan melanjutkan shalatnya. Saat itu lah mama menghela nafas terakhirnya, aku pun menjerit histeris. Ku lihat wajah mama yang terlihat terang dan bersinar, ku cium pipi nya yang mulai keriput, ku lihat senyum terakhirnya yang sangat manis. Aku menyesal tak pernah merawat mama, aku selalu sibuk dengan dunia ku sendiri.

Seminggu telah berlalu, aku selalu menghabiskan waktu ku untuk merenung, melamun dengan tatapan kosong memikirkan mama yang tak lagi bersama ku. Aku hidup sebatang kara tak mempunyai siapa-siapa.
Ketika aku sedang membersihkan lemari besar milik Alm. Mama dikamar. Aku ingin mengambil pakaian yang berada dipaling atas lemari, aku mencoba melompat dan tiba-tiba aku melihat selembar surat putih jatuh dari bawah pakaian.

Isi dari surat tersebut : 
"Ya tuhan, berikan aku waktu untuk menjaganya, menemani hari-harinya, mengisi kekosongan waktunya. Aku masih ingin membuatkannya sarapan pagi, memasak tempe goreng kesukaannya, menyapanya ketika pulang sekolah, bercanda bersamanya, dan merawatnya saat sakit. Mama Sayang Tashya."

Ah, ya Tuhan, ternyata bagi seorang ibu bersusah payah melayani putrinya adalah sebuah kebahagiaan besar. Aku pun segera meredam tangis ku dan coba bicara dalam hati "Karena Aku Sayang Mama" itulah ucapan ku kepada mama, dan aku yakin mama pasti mendengarnya.

Sahabatku, tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "Aku sayang padamu." Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai. Ayo, kita mulai dari orang yang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu. Walau ia tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata "Karena Aku Sayang Mama" akan sangat berarti dan membuat mereka sangat bahagia. "Ya Allah, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama. Dan jika saatnya nanti mama kau panggil, terimalah dan jagalah ia di sisiMu. Titip mamaku, ya Allah.


Writer : Denia Asyafira

Tidak ada komentar:

Posting Komentar