Namaku Tashya, umurku 15 tahun. Aku tinggal
berdua bersama Mama. Papa dan Mama sudah bercerai 10 tahun yang lalu, aku ikut
mama dan Maya adikku ikut Papa.
*Ketika pulang sekolah*
Toktoktok "Ma, aku pulang" aku
teriak sambil mengetok pintu rumah. "Masuk aja nak, pintu gak mama
kunci" saut mama dari arah dapur. Aku pun langsung bergegas ke ruang makan
dan mencoba mencolong tempe goreng hangat yang baru mama masak.
"eeitt..ganti baju dulu, baru kita makan bareng." Jawab mama dengan
senyum tipis sambil memegang tanganku yang enggan mengambil tempe goreng di
meja makan. Tradisi itu sudah berlangsung selama 11 tahun, sejak pertama kali
aku bisa mengingat. Kebiasaan aku dan mama tak pernah berubah.
*Saat sedang makan bersama*
"Uhuk uhuk" suara batuk yang
terdengar tak lagi asing pun mengarah dari arah mama, kulihat tangan mama yang
sedang menutupi mulut dan hidung itu pun mengeluarkan darah. Mama pun segera
menuju kamar mandi dengan tubuh lesu nya. Bodohnya aku, yang hanya tertunduk
diam, dan melanjutkan makan ku tanpa sedikit pun menghiraukannya. Sebenarnya
aku ingin sekali menolong dan bertanya kepada mama seperti yang dilakukan
seorang anak di film-film. Tetapi kata-kata itu seakan tertahan oleh gengsi ku.
Aku pun masih belum berani berbicara bijak didepan mama.
Esoknya, ketika matahari hangat mulai
terbit, yaa seperti biasa, aku dan mama melaksanakan shalat shubuh 2 rakaat di
ruang tamu. Dan mama yang selalu berada didepanku. Anehnya, ketika sujud, mama
tidak lagi terbangun dan melanjutkan shalatnya. Saat itu lah mama menghela
nafas terakhirnya, aku pun menjerit histeris. Ku lihat wajah mama yang terlihat
terang dan bersinar, ku cium pipi nya yang mulai keriput, ku lihat senyum
terakhirnya yang sangat manis. Aku menyesal tak pernah merawat mama, aku selalu
sibuk dengan dunia ku sendiri.
Seminggu telah berlalu, aku selalu
menghabiskan waktu ku untuk merenung, melamun dengan tatapan kosong memikirkan
mama yang tak lagi bersama ku. Aku hidup sebatang kara tak mempunyai
siapa-siapa.
Ketika aku sedang membersihkan lemari besar
milik Alm. Mama dikamar. Aku ingin mengambil pakaian yang berada dipaling atas
lemari, aku mencoba melompat dan tiba-tiba aku melihat selembar surat putih
jatuh dari bawah pakaian.
Isi dari surat tersebut :
"Ya tuhan, berikan aku waktu untuk
menjaganya, menemani hari-harinya, mengisi kekosongan waktunya. Aku masih ingin
membuatkannya sarapan pagi, memasak tempe goreng kesukaannya, menyapanya ketika
pulang sekolah, bercanda bersamanya, dan merawatnya saat sakit. Mama Sayang
Tashya."
Ah, ya Tuhan, ternyata bagi seorang ibu
bersusah payah melayani putrinya adalah sebuah kebahagiaan besar. Aku pun
segera meredam tangis ku dan coba bicara dalam hati "Karena Aku Sayang
Mama" itulah ucapan ku kepada mama, dan aku yakin mama pasti mendengarnya.
Sahabatku, tidak selamanya kata sayang
harus diungkapkan dengan kalimat "Aku sayang padamu." Namun begitu,
Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang
yang kita cintai. Ayo, kita mulai dari orang yang terdekat yang sangat
mencintai kita, Ibu. Walau ia tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata
"Karena Aku Sayang Mama" akan sangat berarti dan membuat mereka
sangat bahagia. "Ya Allah, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk
bisa membahagiakan mama. Dan jika saatnya nanti mama kau panggil, terimalah dan
jagalah ia di sisiMu. Titip mamaku, ya Allah.
Writer : Denia Asyafira

Tidak ada komentar:
Posting Komentar